Pendapatan pengemudi Gojek sebesar Rp 8 juta
per bulan membuat karyawan kantoran iri. Jika dulu ada karyawan yang
resign banting stir jadi pengusaha, empat sampai enam bulan yang lalu
kondisi tersebut telah berubah. Mereka ramai-ramai mendaftar jadi supir
ojek. Ada juga yang memilih tetap bekerja di kantor tapi mengambil
pekerjaan sampingan jadi supir ojek di Gojek.
Para pengemudi sendiri yang mengakui kalau
pekerjaan menjadi supir ojek tak `senistah` dulu. Semenjak ada Gojek dan
ojek berbasis online lainnya, profesi sebagai supir ojek tak bisa
dipandang sebelah mata. Kehidupan mereka mengalami perubahan. Untuk
menghidupi tiga orang anak yang masih kecil-kecil terasa lebih ringan.
Mahasiswa atau anak muda yang berasal dari
keluarga kaya pun ada yang menjalani pekerjaan sebagai supir ojek dan
tak malu dipanggil dengan sebutan abang ojek. Bedanya, motor mereka
lebih besar CC-nya, sepatunya bermerek, aroma tubuh lebih wangi, dan jam
tangan yang tak kalah canggih dari ponselnya.
Tempo hari si Jeko, teman saya di kantor,
dapat abang Gojek yang mengenakan sepatu Nike, jam tangan Apple Watch,
dan iPhone 5S serta Android. Setelah stalkingin akun IG-nya, wajar kalau
si abang ojek ini tidak kesulitan waktu dimintai tolong beli makanan
kucing di tempat yang mungkin jarang terjamah. Tajir bo!
Namun dari pengemudi jugalah saya mengetahui
kalau sekarang rada susah mendapat uang sebesar itu. Mereka berharap
pendapatan pengemudi Gojek sebesar Rp 8 juta per bulan tak menjadi
cerita lalu semenjak penerimaan besar-besaran di Senayan dua bulan lalu.
Dalam sebulan ini saya mendapat curhatan
seperti itu dari tiga atau empat orang pengemudi Gojek. Seperti biasa,
saya selalu mengajak pengemudi Gojek ngobrol atau sebaliknya biar
perjalanan tak terasa lama.
Sebut saja Pak Irwan, 43 tahun, dulunya
adalah seorang karyawan biasa yang digaji sebesar Rp 4,5 juta tiap
bulan. Tahu kalau pendapatan di Gojek lebih besar, Pak Irwan pilih
resign dan mencoba keberuntungan di Gojek. Tiga bulan pertama, April
sampai Juli, Pak Irwan merasakan betul gaji besar itu. “Alhamdulillah,
Dek, kebantu banget.”
Strategi Pak Irwan, begitu keluar di pagi
hari mencari orderan dengan jarak yang cukup jauh. Mendekati sore sampai
malam, sebisa mungkin paling jauh hanya 10 kilometer. Namun strategi
itu berubah kala jumlah driver Gojek bertambah. “Sekarang jumlahnya
membludak, dek. Apalagi sekarang di beberapa titik sudah ada Gojek yang
bikin pangkalan sendiri. Kalau saya nyelak, saya enggak enak. Tapi
ngaruh banget ke pendapatan saya,” kata Pak Irwan. Itu dulu. Beda
ceritanya dengan sekarang. Menyadari kalau beginilah pekerjaan sebagai
pengemudi Gojek, Pak Irwan pun main ambil saja begitu ada orderan masuk
ke ponselnya. “Rada nggak enak juga sebenarnya. Tapi mau bagaimana
lagi?”
Satu lagi strategi yang diterapkan Pak
Irwan, menggunakan waktu libur untuk narik! “Tiga bulan pertama itu,
Sabtu dan Minggu libur nggak terlalu berpengaruh sama pendapatan. Saya
bisa main sama anak-anak. Sekarang, saya pakai juga buat narik. Ya,
walaupun setengah hari.”
Beda Pak Irwan, beda pula dengan Pak Zul.
Sebelum jadi Gojek sebulan yang lalu, Pak Zul baru saja resign dari
pekerjaan dengan pendapatan sebulan sekitar Rp 5-6 juta. Dia tidak
menyebut secara detail apa pekerjaannya. Dari percakapan kami mengenai
pekerjaan di bidang jurnalis, iklan, dan televisi, saya menebak Pak Zul
ini orang lama di dunia periklanan. Tahu banget seluk beluk kerja di
periklanan.
“Saya sudah dengar sih, kalau pendapatan
Gojek sebesar itu rada susah. Tapi bukan berarti mematahkan semangat
saya untuk bekerja, dong? Dapat segitu Alhamdulillah, enggak ya
Alhamdulillah juga. Strategi saya paling ambil yang jauh-jauh. Meski
terkadang suka di-BT-in sama teman-teman yang lain. Siapa suruh mereka
lengah. Bukan maksud saya untuk merusak pendapatan mereka tapi ya pas
saya lihat dan saya tahu letaknya, saya ambil.” Kata Pak Zul.
Nah, yang paling bikin saya kesal waktu
mendengar curhatan pengemudi Gojek sebut saja Kirun, 24 tahun. Dia
merasakan betul imbas dari penerimaan besar-besaran Gojek beberapa bulan
lalu. Jadinya harus rebutan penumpang sama seperti Pak Irwan dan Pak
Zul. Kampretnya, Kirun ini main ambil orderan saja tanpa melihat dulu ke
mana tujuannya si calon penumpang.
“Makanya, saya minta tolong diarahin sama
kakak. Maaf ya, kak, bukannya saya kurang ajar atau gimana-gimana, tapi
kalau nggak seperti ini bisa kecil pendapatan saya,” mendengar si Kirun
ngomong seperti ini, mau marah rasanya nggak pantes, mau kasihan tapi
itu kan risiko dari setiap pekerjaan, bukan? *tamparin pakai helm*
Gojek yang sekarang beda sama yang dulu
Sebulan ini juga saya rasakan ada perbedaan
yang cukup mencolok antara pengemudi Gojek yang dulu dan sekarang.
Seperti Kirun, kebanyakan pengemudi Gojek sekarang main ambil orderan
tanpa tahu ke mana tujuannya. Kalau menurut mereka terlalu jauh tak
jarang mereka sendirilah yang membatalkan orderannya.
Dulu, saya mendapat pengemudi Gojek yang
tahu jalan. Bahkan yang jauh sekali pun. Paling yang mereka tanyakan
Cuma letak persisnya dan ancar-ancar.
Misalnya saya dari Palmerah mau ke Kuningan.
Pengemudi Gojeknya paling Cuma nanya,”Ini yang letaknya sebelah kanan
kalau dari perempatan Kuningan kan, Mbak? Mbaknya mau lewat situ atau
ada jalan lain yang mungkin menurut Mbak lebih cepat?”. Sekarang
dapatnya malah,”Mbaknya mau ke mana, ya?”. Siapa coba yang tidak geram
mendapat pertanyaan seperti ini. Bukannya saat melihat orderan bakal
terlihat bakal membawa calon penumpang ke mana? Kok ini malah bertanya
mau ke mana.
Untung saya masih punya rasa toleransi dan
untung harganya jelas. Tidak membatalkan oderan itu tapi memberitahu
tujuan sebenarnya. Cuma rasa gondok itu muncul saat dia bertanya
lagi,”Gedung Kemenkes? Itu Kuningan sebelah mana? Jauh nggak dari Gedung
Bakrie?”.
Selain itu, jika dulu kebanyakan pengemudi
Gojek masih bisa diajak ngobrol, pengemudi sekarang sepertinya susah.
Bawa motornya saja terburu-buru. Maunya cepat sampai, dapat bayaran,
narik lagi. Tak jarang saya meminta mereka untuk tidak ngebut-ngebut.
Memang, dengan bertambahnya pengemudi Gojek,
bertambah pula jumlah penumpangnya. Saya merasakan betul kalau sekarang
waktu order lebih cepat dari bulan-bulan sebelumnya. Tidak sampai 15
menit sudah ada yang menerima orderan saya. Dulu sampai 30 menit orderan
saya tidak ada yang menerima yang berakhir gagal order. Tapi saya lebih
senang dengan yang dulu, yang menerima orderan beneran tahu ke mana
tujuan saya.
Pengemudi Gojek muda yang tajir tak usalah narik
Seperti yang saya tulis di atas, mereka yang
berasal dari keluarga berada tak malu jadi pengemudi Gojek. Bahkan
sekitar tiga bulan lalu media sosial seperti Facebook dan Path dibanjiri
postingan pengemudi Gojek berwajah ganteng menunggangi motor ber-CC
besar berjaket hijau bertuliskan GOJEK.
Menurut saya, kalau hanya untuk ajang
keren-kerenan, mending nggak usah jadi pengemudi Gojek. Pendapatan
sebesar Rp 8 juta per bulan memang sangat menggiurkan. Namun akan lebih
mulia jika uang itu biar didapat oleh mereka yang benar-benar
membutuhkan guna menghidupkan istri dan anaknya yang masih kecil. Dengan
berkurangnya jumlah pengemudi Gojek peluang mereka mendapat uang
sebesar itu ada. Atau dari pihak Gojeknya menyudahi promo-promonya.
Kembali ke harga normal, lihat berapa banya pelanggan Gojek yang
benar-benar setia.
Buat pengemudi Gojek berusia muda dan
berwajah tampang, mending masukin lamaran ke Production House (PH) siapa
tahu jadi bintang sinetron. Atau usaha lain. Sebentar lagi musim hujan,
kemungkinan pendapatan pengemudi Gojek turun sangatlah besar. Jadi,
biarkan mereka melakoni profesi sebagai pengemudi Gojek itu.
Benar, deh, saya rela menunggu Gojek cukup
lama (kalau memang jumlah pengemudi Gojek berkurang) asal yang menerima
orderan saya benar-benar tahu jalan dan tidak diuber-uber waktu.
sumber : https://adiitoo.wordpress.com/2015/09/20/curjek-pendapatan-pengemudi-gojek-rp-8-juta-tinggal-cerita/
